BIOGRAFI DRS. WIDAD “APIN” ARIFIN, M.ED – Bagian satu

Oleh Ence Ali Sajidin, S.S*

Ence Ali Sajidin 2 mtsn pasiripisTak kala menyebut Nama MTsN pasiripis maka di sebagian alumni dan siswanya akan ada satu nama juga yang melekat di ingatan mereka, yaitu bapak Apin atau PW (dibaca pewe). yah nama Bapak Widad Arifin lengkapnya, akan menjadi salah satu bahan perbincangan para alumni dan siswa MTsN Pasiripis di samping  mengingat juga nama-nama guru yang lain jika ditanyakan kepada mereka ”siapa guru mereka ketika di Tsanawiyah Pasiripis?”.
Dilahirkan di Sukabumi tepatnya di daerah kaum kaler Cicurug, pada tanggal 15 Agustus 1968,  merupakan anak ke-6 dari 11 bersaudara, putera dari bapak H. Zaenudin (alm) yang bermata pencaharian sebagai pedagang di pasar Cicurug dengan ibu Hj. Sumirat seorang penceramah yang cukup terkenal pada waktu itu. Widad Arifin kecil mengawali jenjang pendidikan formalnya dibawah asuhan Ibu Tein dan ibu Gunawan yang mengajar di TK Pertiwi Cicurug pada tahun 1974. Tahun 1981 menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 2 Cicurug yang berlokasi di kampung nempel Cicurug, tidak berhenti hanya sekolah dasar pada pagi hari, di siang hari hingga sore Widad Arifin menimba ilmu keagamaan di Madrasah Diniyah Mahmudiyah sadamukti, yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari kediamannya. Yayasan Mahmudiyah ini masih milik kerabat dari keluarga besar Hj.Sumirat, ibunya.
widad arifin 2 mtsn pasiripisSeperti umumnya masa kecil, Widad Arifin pun mengalami dan menikmati dunianya, kenakalan ciri khas anak jaman itu juga sempat ia cicipi, ngabuburit kala bulan ramadhan, atau sekedar ’abring-abringan’ bermain di sekitar Kaum kaler, Sungai Cicatih, Lembur Kolot, Sidamukti,  nyangkowek dan wilayah Cicurug sekitarnya. Bukan hanya itu kenakalan widad kecil menjadi-menjadi ketika umur 10-13 tahun, misalnya ketika hari jumat datang, saat orang-orang masuk mesjid dan melaksanakan shalat jumat, dia bersama rekan-rekannya sering menyembunyikan ’rancatan” tukang dagang, atau iseng berkali-kali memukul ”Kohkol”, bedug atau ”kenong tukang es nong-nong”.
Namun ada waktunya juga widad kecil menerima ”karma” dari kenakalan-kenakalan itu, ceritanya pada hari jumat yang lain, di wilayah kaum kaler Cicurug sedang musim permainan anak-anak membuat ”bebedilan” dari sebilah bambu, dan dengan menggunakan beberapa karet gelang sebagai alat pelontarnya, sedang peluru yang digunakan biasanya adalah buah sadagori. Karena kurang puas, Widad berinisiatif mengganti pelurunya dengan buah kersen yang masih mentah, yang menurut pemikirannya lebih besar dan tentunya lebih mantap jika kena pada musuh ketika nanti bermain perang-perangan. Nah berawal dari inilah, persitiwa yang cukup menggemparkan teman dan keluarganya terjadi, saat naik pohon kersen ditepi sungai Cicatih, Widad kecil, ”lantaran sieun hileud bulu”, tergesa-gesa melepas pegangan pada pohon kersen, dia terjatuh hingga tak sadarkan diri, menurut pengakuannya hingga 3 hari dia belum siuman. Mulutnya terluka karena terkait kawat berduri, yang hingga sekarang masih tampak bekas lukanya tersebut.
Tahun 1981 Widad Arifin masuk ke Sekolah lanjutan pertama yaitu SMPN 1 Cicurug, lokasi sekolah yang bejarak sekitar 3 KM dari kaum kaler ke arah timur, tepatnya di depan lapangan Caringin Cicurug Sekarang, ditempuhnya dengan berjalan kaki pulang pergi, sesekali dilewati melalui rel kereta Api atau menyusuri jalan raya. Namun pada masa ini pula pemuda widad mendapat julukan ”Ustad Nangka” di kalangan anggota pengajian rutin di kediaman ibunya, mengapa demikian? Karena jika ibundanya berhalangan hadir memberi tausiah, maka yang menjadi ”sulur” menggantikan ibunya adalah Widad Arifin yang mulai dipercaya oleh keluarga dan anggota pengajian.
widad arifin mtsn pasiripis & familyTahun 1984, Widad Arifin lulus dari SMPN 1 Cicurug, dan sesuai cita-citanya melanjutkan ke SMAN Cibadak, namun saat beliau menginjak kelas 2 SMA, ada kebijakan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu, yang mengharuskan siswa-siswi SMAN Cibadak yang berdomisili mulai dari Parungkuda hingga Cicurug harus masuk ke SMAN Cicurug, yang berlokasi di SMAN parungkuda sekarang. Salah satu siswa yang terkena kebijakan ini adalah pemuda Widad, meski awalnya keberatan, namun akhirnya beliau bisa meuntaskan pendidikan tingkat atasnya pada tahun 1987.

Selanjutnya mengapa bapak Apin Sangat ”Borangan” alias penakut? Tunggu di bagian 2 biografi Widad Arifin

Penulis adalah guru Bahasa Sunda di MTsN Pasiripis Kab. Sukabumi.

(Total dibaca sebanyak 836 kali)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *