Biografi Tokoh Pendidikan di Indonesia

Biografi Tokoh Pendidikan di IndonesiaSebagai anak muda ataupun orangtua yang selalu berjiwa muda dan  berkeinginan kuat, maka kita harus mengetahui Biografi Tokoh Pendidikan di Indonesia dan sepatutnya lah meniru bagaimana para leluhur kita berjuang. Tak bisa dielakkan perjuangan para leluhur kita sangat berperan penting dengan kelangsungan hidup kita saat ini.
Berbicara masalah pendidikan, dulu para tokoh dengan semangat juangnya memajukan pendidikan di Indonesia dengan gigih dan tulus. Semuanya itu mudah-mudahan bisa ditiru dan dijadikan teladan oleh siapa saja.
Seberapa tahukan kita dengan para tokoh khusus pendidikan?. Mari kita sama-sama membahas mengenai beliau yang telah berjasa dengan dunia pendidikan.
Banyak tokoh pendidikan nasional zaman dulu dan sekarang. Cuma pada kesempatan ini, saya akan tampilan  5 tokoh saja dulu.
1.    Ki Hadjar Dewantara
Foto Ki Hajar DewantaraSeperti yang tertulis di http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hajar_Dewantoro, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak tahun 1922 kemudian menjadi Ki Hadjar Dewantara, Ejaan Yang Disempurnakan: Ki Hajar Dewantara, beliau beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggalnya di Yogyakarta, pada 26 April 1959 pada umur 69 tahun.. Selanjutnya disingkat sebagai “Soewardi” atau “KHD”) adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan juga merupakan sebagai pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Beliau merupakan  pendiri dari Perguruan Taman Siswa, merupakan suatu lembaga pendidikan yang telah memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Sebagai penghormatan kepada beliau, tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaan beliau adalah tut wuri handayani, yang kemudian menjadi slogan dari Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Selain dari itu nama beliau diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, yaitu KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah pada tahun emisi 1998.
Beliau dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI yaitu Soekarno, pada 28 November 1959 (tertuang pada Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia yaitu No. 305 Tahun 1959, pada tanggal 28 November 1959).

2.    Ahmad Dahlan
foto ahmad-dahlanSeperti yang tertuang di http://id.wikipedia.org, Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (lahirnya di Yogyakarta, pada 1 Agustus 1868 – kemudian meninggal di Yogyakarta, pada 23 Februari 1923 yaitu pada umur 54 tahun). Beliau merupakan  seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah putera ke-4 dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. Beliau adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan merupakan puteri dari H. Ibrahim yang pada waktu itu menjabat sebagai penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.
Pada zaman modern sekarang, kisah hidup dan perjuangan beliau mendirikan Muhammadiyah diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Pencerah. bukan hanya menceritakan tentang sejarah kisah Ahmad Dahlan, dalam film ini juga menceritakan  tentang perjuangan dan semangat patriotisme anak muda dalam merepresentasikan pemikiran-pemikirannya yang dianggap bertentangan dengan pemahaman agama dan budaya pada masa itu, yaitu dengan latar belakang suasana pada Kebangkitan Nasional. Sebagai generasi yang memegang peranan penting kemajuan bangsa, recommend tonton film ini 😀

3.    Raden Adjeng Kartini
foto_Raden_Ajeng_KartiniBerikutnya ada Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut juga Raden Ayu Kartini, beliau lahir di Jepara, Provinsi Jawa Tengah, pada 21 April 1879 dan kemudian meninggal di Rembang, provinsi Jawa Tengah, pada 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Beliau adalah seorang tokoh pendidikan perempuan dari suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. RA Kartini dikenalah sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

4.    Dewi Sartika
foto Dewi_SartikaBerikutnya ada  Dewi Sartika, beliau dilahirkan di keluarga priyayi Sunda, yaitu Nyi Raden Rajapermas dengan Raden Somanagara. Meskipun saat itu bertentangan dengan adat waktu itu, ayah-ibunya tetap berkeinginan menyekolahkan Dewi Sartika di sekolah Belanda. Setelah ayahnya wafat, beliau  diasuh oleh pamannya (kakak ibunya) yang menjadi patih di Cicalengka. Oleh pamannya beliau mendapatkan pengetahuan mengenai kebudayaan Sunda, sementara itu wawasan kebudayaan Barat didapatkannya dari seorang nyonya Asisten Residen berkebangsaan Belanda.

Kemudian sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan khsusus bagi kaum perempuan. Bertempat di sebuah ruangan kecil yang berada di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika kemudian mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Belajar tentang merenda, memasak, menjahit, membaca, menulis dsb.

Selesai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada tanggal 16 Januari 1904, Dewi Sartika kemudian membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) yang pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya berjumlah tiga orang : Dewi Sartika lalu dibantu  dua saudara misannya, yaitu Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid pada angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, dengan menggunakan ruangan sederhana pendopo kabupaten Bandung.

Setahun kemudian, pada tahun 1905, sekolahnya menambah kelas. Sehingga pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli dengan uang tabungan pribadi, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung pada waktu itu. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, bahasa sunda lebih mememenuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

Kemudian pada tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakolah Istri lainnya, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan beliau. Kemudian pada tahun 1912 sudah berdiri 9 Sakolah Istri di kota-kota kabupaten. Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolah tersebut diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga atau empat, semangat ini menyeberang sampai ke Bukit tinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Maka seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupaten pada tahun 1920, kemudian ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Pada bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama jadi “Sakola Raden Déwi”. Kemudian atas jasa beliau dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi sebagai bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda waktu itu.

Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya kemudian dimakamkan dengan upacara pemakaman yang sederhana di pemakaman Cigagadon Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian beliau dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Kabupaten Bandung.

5.    Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy’ariefoto KH. Hasyim Asy ari
Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy’arie, beliau lahir di Desa Gedang, yaitu Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 10 April 1875  meninggal di Jombang, Jawa Timur, pada 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun; 4 Jumadil Awwal 1292 H- 6 Ramadhan 1366 H; dimakamkan di daerah Tebu Ireng, Jombang. Beliau  adalah salah seorang Pahlawan Nasional di Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi masa Islam yang terbesar di Indonesia. Pada kalangan Nahdliyin & ulama pesantren ia dijuluki dengan sebutan “Hadratus Syeikh” yang artinya adalah maha guru.

Demikian Biografi Tokoh Pendidikan di Indonesia dan betapa besar semua jasa para tokoh pendidikan dan mudah-mudahan kita sebagai generasi muda bisa melanjutkan perjuangannya.

Sumber tulisan, sebagian copas dari : http://id.wikipedia.org, http://adibabadi.blogspot.com/2014/01/5-tokoh-pendidikan-indonesia.html

(Total dibaca sebanyak 9705 kali)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *