MADRASAH DAN EKSISTENSIANNYA

Oleh :

Drs. H. Widad Arifin, M.Ed.*

Widad Arifin MTsN Pasiripis-April 2014A.     KONTRIBUSI MADRASAH TERHADAP PENCAPAIAN TUJUAN SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

Perbaikan sistem pendidikan agama yang telah diatur berdasarkan UUSPN No. 2 tahun 1989, pasal 11 merupakan arah pijakan yang jelas bagi madrasah. Pasal tersebut menyatakan :
“Jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik dan pendidikan profesional. Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan”.

Dalam perjalannya, madrasah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang harus diakui publik telah memberikan banyak kontribusi positif dalam membangun bangsa ini. Madrasah yang telah berakar, tumbuh dan berkembang dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara juga telah berkontribusi menciptakan anak bangsa, serta berpotensi besar untuk bersama – sama dalam menuntaskan wajib belajar 9 tahun dan menentaskan buta hurup.

Hal ini tidak lain karena madrasah didirikan atas inisiatif masyarakat yang mendambakan tamatan lembaga pendidikan formal yang mempunyai integritas tinggi dan berjiwa besar sesuai dengan harapan yang diamanatkan dalam tujuan pendidikan nasional. Keberadaan lembaga/madrasah merupakan rangkaian bagian dari sejarah kebangkitan bangsa sejak sebelum merdeka hingga dewasa ini tetap relevan dalam perjuangannya untuk mencapai pendidikan nasional.

B.     PROBLEMATIKA UMUM MADRASAH
Madrasah merupakan suatu lembaga muncul dengan usia yang cukup tua dalam kiprahnya membantu pelayanan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan bersama dengan lembaga lain, terutama dengan Diknas. Namun demikian nama madrasah “nyaris tak terdengar” serta kurang berbunyi dalam lingkungan masyarakat. Hal ini kita sadari bersama bahwa bila masyarakat diperkenankan untuk memilih sekolah unggulan, maka nama madrasah selalu menduduki nomor utama dari urutan terbawah. Apalagi setelah dihadapkan dengan perolehan rangking nilai terbaik, lagi – lagi nama madrasah juga mendapat urutan yang sama. Tentu saja hal ini merupakan sebuah problematika madrasah yang tidak boleh berlanjut dalam kelarutan.

Secara nasional madrasah dipercaya untuk bisa menyerap sedikitnya 16,7 persen dari total penduduk berusia 7 sampai 15 tahun dalam program wajib belajar 9 tahun (Problematika Madrasah : 2001). Artinya madrasah diharapkan mampu menyerap enam sampai tujuh juta pelajar yang tertampung di dalamnya. Namun data EMIS (Education Management System) Perguruan Tinggi Agama Islam Tingkat Dasar Direktorat Jenderal Kelembagaan Islam Departemen Agama RI menyatakan hanya 10,5 % untuk tingkat MI dan 12,9 % untuk tingkat MTs.

Padahal secara integritas penduduk Indonesia mayoritas muslim, namun mengapa kepercayaan dalam pemilihan madrasah jauh dibanding dengan sekolah lain. Bahkan yang paling mencolok mata, tidak sedikit masyarakat muslim yang mensekolahkan anaknya ke sekolah non muslim, karena sekolah tersebut dianggap sebagai sekolah yang bagus dan menjanjikan. Dan ternyata memang begitu kenyataannya.

Secara garis besar, ada tiga permasalahan mendasar yang dihadapi madrasah dalam kiprahnya untuk meningkatkan kualitas kemadrasahannya, yaitu “Problem Politik, Problem Sumber Daya dan Problem Partisipasi Masyarakat”, seperti yang Abung paparkan dalam Seri Problematika Madrasah (2001 : 4).

C.    MADRASAH SEBAGAI HARAPAN MASYARAKAT
Sebagai lembaga pendidikan formal, madrasah dewasa ini merupakan lembaga yang banyak diharapkan masyarakat terus berkiprah. Seiring dengan meningkatnya ekses modernisasi dan globalisasi di berbagai aspek. Merosotnya moral sebagian bangsa Indonesia serta timbulnya krisis multi dimensi menuntut upaya pemecahan yang harus dilakukan. Pemecahan masalah tersebut telah dicanangkan pemerintah dimulai dari sektor pendidikan formal.

Keadaan masyarakat yang sudah menganggap bahwa pendidikan anaknya adalah bagian dari tanggung jawab lembaga pendidikan formal, menyimpan harapan yang besar pada madrasah untuk mampu mewujudkan harapan tersebut.

D.    TANTANGAN MADRASAH SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL

Tilaar, seperti yang dikutip Mulyasa (2003 : 4) mengemukakan bahwa pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada enam krisis pokok :
1.    Menurunnya akhlak dan moral peserta didik
2.    Pemerataan kesempatan belajar
3.    Masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan
4.    Status kelembagaan
5.    Manajemen pendidikanm
6.    Sumber daya yang belum profesional.

Sebagai lembaga pendidikan formal, madrasah senantiasa dihadapkan pada masalah dan tantangan tersebut.

Sejalan dengan bergulirnya otonomi pendidikan yang disertai kebijakan perubahan kurikulum, maka tuntutan dan tantangan yang dihadapi madrasah akan semakin terasa. Hanya sekolah yang memenuhi harapan masyarakat yang akan mampu bertahan lama. Di era otonomi ini persaingan antar lembaga dalam mempertahankan eksistensinya akan semakin terasa.

Namun terlepas dari banyaknya masalah dan tantangan, baik secara internal maupun eksternal, madrasah diharapkan mampu menjawab seluruh tantangan tersebut, sehingga harapan sebagian masyarakat dapat terpenuhi.

STRATEGI PENGEMBANGAN MADRASAH

Madrasah  secara  kelembagaan  perlu  dikembangkan  dari  sifat “reaktif”   dan   proaktif   terhadap perkembangan masyarakat   menjadi rekonstruksionistik-sosial. Menjadi rekonsionistik berarti pendidikan madrasah perlu aktif ikut memberi    corak dan arah terhadap perkembangan masyarakat yang dicita-citakan. Untuk    memiliki kemandirian menjangkau keunggulan, filosofi ini perlu dijabarkan dalam strategi   pengembangan   pendidikan   madrasah   yang   visioner,   lebih memberi  nilai  tambah  stategis, dan lebih meningkatkan  harkat  dan martabat manusia. Strategi pengembangan pendidikan madrasah perlu dirancang agar mampu  menjangkau  alternatif jangka panjang, mampu menghasilkan perubahan yang signifikan, ke arah perncapaian visi dan misi  lembaga,  sehingga  akan  memiliki  keunggulan  komparatif  dan kompetitif terhadap bangsa-bangsa lain.

A.  Strategi Pengembangan Madrasah
Strategi pengembangan  madrasah dilakukan dengan 5 (lima) strategi pokok, yaitu: 1) Peningkatan layanan pendidikan di madrasah; 2) Perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan di madrasah; 3) Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan; 4) Pengembangan sistem dan  manajemen  pendidikan;  dan  5)  Pemberdayaan  kelembagaan madrasah.

1.  Strategi peningkatan layanan pendidikan di madrasah
Ikhtiar untuk senantiasa pengembangan madrasah pada situasi apapun, termasuk juga pada situasi krisis ekonomi yang sampai sekarang masih dirasakan akibatnya, strategi yang ditempuhnya lebih difokuskan pada  upaya  mencegah  peserta  didik  agar  tidak  putus  sekolah, mempertahankan  mutu  pendidikan  agar  tidak  semakin  menurun. Indikator keberhasilannya adalah :
(a)    angka putus sekolah di madrasah dipertahankan seperti sebelum krisis dan akhirnya dapat diperkecil;
(b)    peserta didik yang kurang beruntung seperti yang tinggal di daerah terpencil, tetap dapat memperoleh layanan pendidikan minimal tingkat pendidikan dasar (Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah);
(c)    siswa yang telah terlanjur putus sekolah didorong kembali untuk kembali dan atau memperoleh layanan pendidikan yang sederajat dengan cara yang lain, misalnya di madrasah terbuka; dan
(d)    proses belajar mengajar di madrasah tetap berlangsung meskipun dana yang terbatas.

Kebijakan   utama   yang   perlu   dilakukan   adalah   :
(a)    mempertahankan laju pertumbuhan angka partisipasi pendidikan dengan menyesuaikan kembali sasaran pertumbuhan angka absolut partisipasi pendidikan di semua jenjang dan  jenis madrasah;
(b)    melanjutkan program pemberian beasiswa dan dana bantuan operasional pendidikan di  semua  jenis  madrasah  yang  kemudian  lambat  laun  dikurangi jumlahnya  sejalan  dengan  semakin  pulihnya  krisis  ekonomi  dan meningkatnya kembali kemampuan orang tua peserta didik dalam membiayai pendidikan;
(c)    mengintegrasikan dana bantuan operasional pendidikan secara bertahap ke dalam anggaran rutin untuk menunjang kegiatan operasional pendidikan di madrasah;
(d)    meningkatkan dan mengembangkan program pendidikan alternatif secara konseptual dan berkesinambungan terutam untuk sasaran peserta didik yang kurang beruntung;
(e)    meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang pendidikan.

2.  Strategi perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan di madrasah
Meskipun  strategi  ini  terfokus  pada  program  Wajib  Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun, jenis dan jenjang pendidikan lainnya pun tercakup. Indikator-indikator keberhasilannya adalah :
(a)    mayoritas penduduk berpendudukan minimal MTs (SMP) dan partisipasi pendidikan meningkat, yang ditunjukkan dengan APK pada semua jenjang dan jenis madrasah;
(b)    meningkatnya budaya belajar yang ditunjukkan dengan meningkatnya angka melek huruf; dan
(c)    proporsi jumlah penduduk yang kurang beruntung yang mendapat kesempatan pendidikan semakin meningkat.

3.  Strategi peningkatan mutu dan relevansi pendidikan di madrasah
Kebijakan program Mapenda untuk meningkatkan mutu relevansi madrasah,  meliputi  4  (empat)  aspek:  kurikulum,  guru  dan  tenaga kependidikan lainnya, sarana pendidikan, serta kepemimpinan madrasah. Pertama, pengembangan kurikulum berkelanjutan di semua jenjang dan jenis madrasah, yang meliputi :
(a)    pengembangan kurikulum madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah yang dapat memberikan kemampuan dasar secara merata yang disertai dengan penguatan muatan lokal;
(b)    mengintegrasikan kemampuan generik dalam kurikulum yang memberikan kemampuan adaptif;
(c)    meningkatkan relevansi program pendidikan  dengan  tuntutan  masyarakat  dan  dunia  kerja;  dan
(d)    mengembangkan budaya keteladanan di madrasah.

Kedua, pembinaan profesi guru madrasah, yang meliputi:
(a)    memberikan kesempatan yang luas kepada semua untuk meningkatkan profesionalisme  melalui  pelatihan-pelatihan  dan  studi  lanjut;
(b)    memberikan perlindungan hukum  dan rasa aman kepada guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam melaksanakan tugas.

Ketiga,  pengadaan  dan  pendaygunaan  sarana  dan  prasarana pendidikan di madrasah yang meliputi :
(a)    menjamin tersedianya buku pelajaran, buku teks, buku daras dan buku-buku lainnya, satu buku untuk setiap  peserta  duduk;
(b)    melangkapi  kebutuhan  ruang  belajar, laboratorium, dan perpustakaan;
(c)    mengefektifkan pengelolaan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pendidikanyang dikaitkan dengan sisten insentif;
(d)    menyediakan dana pemeliharaan yang memadai untuk pemeliharaannya;
(e)    mengembangkan lingkungan madrasah sebagai pusat pembudayaan dan pembinaan peserta didik.

4.  Strategi pengembangan manajemen pendidikan madrasah
Strategi ini berkenaan dengan  upaya mengembangkan sistem manajemen madrasah sehingga secara kelembagaan madrasah akan memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut :
(a)    berkembangnya prakarsa  dan  kemampuan-kemampuan  kreatif  dalam  mengelola pendidikan, tetapi tetap berada dalam bingkai visi, misi, serta tujuan kelembagaan madrasah;
(b)    berkembangnya organisasi pendidikan di madrasah yang lebih berorientasi profesionalisme, daripada hierarchi; dan
(c)    layanan pendidikan yang semakin cepat, terbuka, adil, dan merata.

Kebijaksanaan  program  yang  dilaksanakan  meliputi  :
(a)    revitalisasi peran, fungsi, dan tanggung jawab pendidikan madrasah;
(b)    mengembangkan sistem perencanaan regional dan lokal di tingkat satuan pendidikan;
(c)    meningkatkan   partisipasi   masyarakat   melalui pembentukan majelis madrasah;
(d)    pemberdayaan personel madrasah yang didukung oleh aparat yang bersih dan berwibawa;
(e)    melakukan kajian pengembangan madrasah yang didasarkan pada Undang-undang Sistem   Pendidikan   Nasional   dengan   segala   macam   aturan perundangannya.

5.  Strategi pemberdayaan kelembagaan madrasah
Strategi  ini  menekankan  pada  pemberdayaan  kelembagaan madrasah    sebagai    pusat    pembelajaran,    pendidikan,    dan pembudayaannya.  Indikator-indokator  keberhasilannya  adalah:
(a)    tersedianya madrasah-madrasah yang semakin bervariasi, yang diikat oleh visi, misi dan tujuan pendidikan madrasah, dengan dukungan organisasi yang efektif dan efisien;
(b)    mutu dan sarana-prasarana madrasah yang semakin meningkat dan iklim pembelajaran yang semakin kondusif bagi peserta didik; dan
(c)    tingkat kemandirian madrasah semakin tinggi.

Kebijakan yang perlu ditempuh adalah :
(a)    melaksanakan telaah, kajian,  dan  “restrukturisasi  madrasah”  sesuai  dengan  tuntutan perkembangan  masyarakat;
(b)    mengembangkan  sistem  organisasi kelembagaan  pendidikan  yang  profesional,  efektif  dan  efisien;
(c)    standarisasi kelembagaan yang didukung oleh sarana dan prasarana minimal dan kualifikasi personel yang sesuai dengan bidang keahlian serta beban pekerjaannya.

B.  Implementasi Strategi Pengembangan Madrasah
Memperhatikan problematika madrasah yang di hadapi dan di kaitkan dengan krisis pokok sistem pendidikan Nasional. Dalam konteks madrasah, diharapkan madrasah akan semakin terus meningkatkan kiprahnya sehingga madrasah terus eksis dan diminati masyarakat sepanjang zaman. Demikian juga dengan Madrasah Tsanawiyah Negeri Pasiripis yang sudah tumbuh kembang sejak tahun 1967 mencoba untuk berkiprah mewujudkan cita – cita bangsa Indonesia seperti yang sudah di bahas di atas. Setidaknya Berdasarkan   kerangka   strategis   pengembangan madrasah sebagaimana di atas, maka pada tataran implementasinya dirumuskan secara  singkat  dalam  bentuk  program-program  pokok  yang  perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat.
C. Langkah Awal Pengembangan Madrasah
Desain   pengembangan   madrasah   mengagendakan   kinerja berjangka panjang, menengah dan pendek. Untuk menciptakan madrasah yang sesuai dengan rencana besar ini, diperlukan prakondisi yang kondusif agar strategi pengembangan madrasah dapat diimplementasikan dengan sebaik-baiknya. Berikut ini beberapa langkah awal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi madrasah saat ini.

Manajemen Madrasah
Melengkapi struktur organisasi dan manajemen kelembagaan, manajemen pendidikan, implementasi dan pengembangan kurikulum, monitoring dan evaluasi sistem pembelajaran.

Koordinasi Pembinaan dan Pengembangan Madrasah
Meningkatkan, mengembangkan dan memperluas kesertaan secara aktif potensi masyarakat dalam membina dan mengembangkan madrasah. Koordinasi dalam konteks ini dapat diartikan dengan koordinasi internal- eksternal, koordinasi horizontal-vertikal dan koordinasi yang bersifat formal-informal.  Berdasarkan  kesemuanya  itu  koordinasi  atau  lebih populer dengan istilah kerja sama: antar guru-guru dan karyawan madrasah, orang tua siswa, para alumni, tokoh masyarakat  (pimpinan informal), lembaga pemerintah dan swasta, organisasi dan  lembaga swadaya masyarakat, para donatur yang berpotensi.

Pemeliharaan dan Peningkatan Kesejahteraan Personel Madrasah
Kesejahteraan dalam arti yang luas perlu dijadikan unsur pendukung untuk mendorong kemampuan personil madrasah dalam menjalankan tugasnya secara optimal, menumbuhkembangkan kebanggaan dan rasa percaya diri. Definisi kesejahteraan dapat diartikan secara luas, baik dalam arti  finansial, perlakuan, hubungan secara insani, pengembangan karir, dan sebagainya.

Desiminasi Informasi Program dan Perkembangan Madrasah
Penilaian,  kontribusi  dan  partisipasi  masyarakat  luas  terhadap keberadaan,  pembinaan  dan  pengembangan  Madrasah  banyak  di pengaruhi oleh sejauh mana mereka memperoleh dan memiliki akses informasi terhadapnya. Berangkat dari ketentuan peraturan perundangan yang menetapkan bahwa masalah  pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat, maka desiminasi  informasi  dalam  berbagai  formatnya  akan  merupakan jembatan yang kokoh untuk mengundang dan membawa masyarakat luas ke arah pembinaan dan pengembangan Madrasah yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Desiminasi informasi ini tidak hanya menyangkut keberhasilan yang telah dicapai saja, akan tetapi harus mencakup  segala  aspek  yang  perlu  meskipun  mungkin  sebagian diantaranya masih merupakan tantangan dan menghadapi sejumlah hambatan.

Dalam kerangka inilah karya tulis ini di buat, sehingga solusi yang di tawarkan akan dapat memperkaya hazanah peningkatan keberadan madrasah sebagai lembaga pendidikan. Mampu menciptakan iklim yang di harapkan melahirkan calon penerus masa depan yang sabar, kompeten, mandiri, kritis, rasional, cerdas, kreatif, siap menghadapi tantangan dan tawakal kepada Allah SWT.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Perencanaan pengembangan madrasah merupakan sebuah sistem manajemen yang memberi keluasaan kepada pihak madrasah untuk mengelola sekolah masing masing menurut kebutuhan, kondisi dan tuntutan lingkungan dimana sekolah tersebut berada. Adapun beberapa aspek yang dapat digarap sekolah dalam rangka manajemen berbasis sekolah meliputi : (1) Perencanaan dan evaluasi program sekolah. (2) Pengelolaan kurikulum (3) Pengelolaan proses belajar mengajar. (4) Pengelolaan ketenagaan (5) Pengelolaan peralatan dan perlengkapan. (6) Pengelolaan keuangan. (7) Pelayanan kepada siswa. (8) Hubungan sekolah   masyarakat (9) Pengelolaan iklim sekolah.

Dari hasil perencanaan di atas diharapkan akan menghasilkan nilai positif bagi sekolah, antara lain : (a) Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah dapat lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada. (b) Sekolah lebih mengetahui kebutuhan skala prioritas (c) Pengambilan keputusan lebih aspiratif dan partisipatif (d) Penggunaan dana lebih efektif dan efisien sesuai dengan skala prioritasnya. (e) Keputusan bersama lebih menciptakan transparansi dan demokrasi. (f) Meningkatkan rasa tanggung jawab (g) Menumbuhkan persaingan sehat, sehingga diharapkan adanya upaya inovatif

B. Saran saran
Dalam rangka perencanaan pengembangan madrasah, perlu dilakukan sosialisasi dan pembinaan baik melalui pertemuan rutin maupun program pelatihan. Program pelatihan hendaknya meliputi materi mengenai ciri dan kemampuan guru efektif dan profesional, materi mengenai evaluasi program, rencana strategis jangka panjang 3 5 tahun dan RAPBS yang dikembangkan sebagai suatu strategi dalam menghubungkan antara prioritas program dan alokasi dana. Selain itu perlu juga memberi kesempatan yang luas dan mengalokasikan dana bagi peningkatan dan pengembangan kemampuan guru dan kepala sekolah. Untuk mengatasi kekurangan sarana dan prasarana dapat  memanfaatkan alam dan sumber daya yang ada sebagai sumber belajar.

A.    DAFTAR BACAAN

Mansyur, dkk, 1995, Pembinaan Kompetensi Guru, Jakarta, Universitas Terbuka.

Mulyasa, E., DR., M.Pd., 2003, KBK Konsep, Karakteristik, dan Inplementasi, Bandung, Remaja Rosda Karya.

Surat Kabar Berita Umum Pendidikan Edisi Juni 2003.

Sutedjo, M., Drs.H., dkk., 1995, Kapita selekta pendidikan agama – Dirjen pembinaan kelembagaan Agama Islam, Jakarta, Universitas Terbuka.

Tafsir, A., DR., 1992, MKPAI, Bandung, Remaja Rosda Karaya.

Ua Abung, U., S.Ag., 2001, Problematika Madrasah, Jakarta, Depag RI.

Zaini, H.,dkk, 2002, Strategi Pembelajaran Aktip, Yogyakarta, CTSD

………, Makalah Lain dari Hasil “Sosialisasi KBK”.

* Penulis adalah guru sains pada MTsN Pasiripis Kab. Sukabumi.

Download makalah lengkah DISINI share via google drive)

(Total dibaca sebanyak 492 kali)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *