Memahami Al-Qur’an Melalui Pembelajaran Sains di Madrasah

Oleh :

Drs. H. Widad Arifin, M.Ed.*

Makalah Tahun 2009

Widad Arifin-MTsN Pasiripis-bersama kakanwil jabarNabi pernah bersabda bahwa ummat (Islam) sesudahnya akan lebih mudah dalam memahami Al-Qur’an. Namun kita menyadari, bahwa pernyataan nabi tersebut tentunya hanya berlaku pada ayat – ayat tertentu, terutama menyangkut ayat – ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebenarnya kita menyadari akan hal ini, mengingat Al-Qur’an diturunkan sekitar tahun 612 – 632 Masehi yang lalu, oleh karena pada waktu itu yang namanya ilmu pengetahuan belum banyak mendapat perhatian banyak orang (terutama pada ayat – ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi). Hal tersebut mengakibatkan banyak ayat – ayat yang berhubungan dengan ilmu tersebut tersebut belum bisa dipahami oleh para sahabat nabi secara utuh, tetapi mereka hanya terbatas pada percaya begitu saja kepada apa yang disampaikan oleh nabi pada waktu itu. Begitu juga dengan nabi Muhammad SAW, di zaman itu sering kali beliau mendapat kesulitan dalam menjelaskan makna dan isi kandungan ayat Al-Qur’an yang akan disampaikan lagi itu kepada para sahabatnya, karena ada perbedaan dasar pengetahuan atau tingkat pemahaman yang berbeda.

Dengan demikian, salah satu hikmah bagi ummat nabi Muhammad yang kebetulan terlahir di abad modern ini, mereka akan mendapatkan dua buah keberuntungan sedikitnya, pertama (khususnya ummat Islam) akan mendapat tempat istimewa kelak nanti di akhirat dikarenakan meski berabad jarak antara kita dengan rasul dan juga belum pernah bertemu dengan beliau tetapi kita mampu mengimaninya secara utuh. Dan kedua yang tidak kalah penting, justru pada zaman inilah kita bisa mampu memahami ayat – ayat Al-Qur’an dengan mudah (seperti disabdakan rasul di atas) karena perkembangan zaman sekaligus tingkat peradaban yang dapat membawa ke tingkat pemahaman yang lebih optimal dibanding dengan masa rasul dahulu.

Namun tingkat pemahaman tersebut tentu saja tidak bisa kita peroleh tanpa melalui suatu pendidikan. Oleh sebab itu disinilah penulis menganggap penting dan sangat perlu dalam memahami Al-Qur’an melalui suatu pembelajaran di sekolah/madrasah. Serta salah satu wahana yang dapat kita peroleh untuk memahami Al-Qur’an (sejak dini) tersebut adalah melalui pendidikan sains (ilmu pengetahuan alam) di madrasah.

Untuk lebih jelas penulis akan menyampaikan bebarapa contoh pemahaman  ayat – ayat Al-Qur’an terutama yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan sains di madrasah.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr Ayat 22 Allah berfirman :

Surat Al-Hijr ayat 22 - MTsN Pasiripis Kab. SukabumiArtinya :

22.    Dan kami Telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan kami turunkan hujan dari langit, lalu kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.

Penulis berpendapat bahwa pada tahun ketika ayat tersebut diturunkan bagaimana mungkin para sahabat mampu memahami isi dari kandungan ayat ini, padahal ayat ini mengkisahkan tentang perkawinan pada tumbuh – tumbuhan. Sedangkan yang namanya perkawinan pada tumbuhan akan terjadi ketika angin membawa benang sari kemudian jatuh ke bunga betina (kepala putik) yang sedang terbuka. Ketika benang sari masuk, maka terjadilah sebuah proses pembentukan buah (pembuahan) sehingga menghasilkan buah yang terdapat biji di dalamnya (pada umumnya) selanjutnya dapat memproduksi tanaman baru.

Kita mungkin sepakat akan sebuah sebuah sejarah yang mengkisahkan bahwa ilmu pengetahuan tentang tumbuhan, baru muncul kemudian sekitar 1000 tahun setelah ayat – ayat suci Al-Qur’an tersebut diturunkan (tepatnya sekitar tahun 1600an). Hal ini berarti ummat masusia baru bisa memahami isi kandungan ayat tersebut 10 abad setelah ayat tersebut diturunkan. Apalagi ditambah dengan banyak bermunculannya beberapa ahli bidang botani yang telah mampu mengadakan rekayasa ilmiah (seperti kultur jaringan, kloning dan lain – lain) setelah didasari oleh seorang rohaniawan Austria Gregor Johan Mendel (tahun 1822 – 1884) yang telah menghasilkan teori persilangannya.

Dalam contoh lain kita simak ayat berikutnya, yaitu dalam surat Al-An’am ayat 95 Allah telah berfirman :
Surat Al-an'am ayat 95 - MTsN Pasiripis Kab. SukabumiArtinya :

95.    Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, Maka Mengapa kamu masih berpaling?

Dari ayat tersebut kita garis bawahi beberapa hal yang perlu kita kaji bersama. Yang pertama ayat tersebut menegaskan bahwa “Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh – tumbuhan dan biji buah – buahan”. Sepertinya kita sebagai pemeran dalam komunitas pendidikan sepakat ketika biji – bijian yang akan kita tanam biasanya petani menjemur biji – bijian tersebut terlebih dahulu di bawah terik matahari. Biji kedelai, kacang tanah, padi dan sebagainya yang sudah kering tersebut nampaknya sudah mati, namun ternyata bisa hidup kembali setelah kita tanam dan kita sisirami dengan air. Ternyata dalam biji – bijian tersebut ada suatu sel yang akan bisa tumbuh jika kondisinya mendukung, sekalipun di Saudi Arabia yang memiliki cuaca tidak sama dengan di kita.

Apabila kita kaji lebih jauh lagi, bukan hanya biji – bijian yang sudah mengering yang mampu menghasilkan generasi yang baru, namun dengan semakin pesatnya ilmu pengatahuan dan teknologi, ummat manusia sekarang sudah mampu pula menghasilkan generasi baru suatu makhluk melalui rekayasa genetika yang sangat canggih, kultur jaringan dan sistem kloning misalnya. Dengan kultur jaringan dan kloning, sel yang nampaknya sudah mati dari sebuah fosil, kuku, rambut, daun dan lain sebagainya yang bisa direkayasa dengan ilmu pengetahuan sehingga dapat menghasilkan generasi yang baru. Subhanallah, sungguh menakjubkan.

“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup”. Tukilan ayat tersebut juga baru dapat dipahami kita bersama setelah bermunculannya beberapa teori terutama yang dikemukakan oleh Lois Pateur seorang ilmuwan Francis, beliau menyampaikan 3 teorinya tentang asal mula kehidupan yang dikenal dengan teori biogenesis yaitu, omne ovum ex vivo (sel telur dari makhluk hidup), omne vivum ex ovo (makhluk hidup dari telur), dan omne vivum ex vivo (makhluk hidup dari makhluk hidup).

Di atas hanya beberapa tukilan ayat saja yang bisa dikemukakan di sini, sehubungan dengan adanya beberapa keterbatasan sehingga penulis hanya mampu memaparkan sedemikian. Namun  semakin jelaslah kiranya, bahwa kita akan mampu memahami ayat – ayat Al-Qur’an yang berisi tentang ayat – ayat kauniah (sekitar 750 ayat sedang ayat – ayat hukum hanya sekitar 150 ayat) adalah dengan perlakuan pendidikan, yaitu perlakuan yang mampu menggandeng antara ilmu pengetahuan dan agama secara bersamaan, bukan justru men-dikhotomi-kan antara keduanya. Karena seperti Einstein pernah menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan tanpa agama akan buta, dan agama tanpa ilmu pengetahuan akan pincang. Kemampuan untuk pemahaman ayat – ayat Al-Qur’an hendaknya sudah harus dipelajari oleh generasi peserta didik di sekolah / madrasah melalui sebuah pendekatan yang mampu membuat kolaborasi ilmu pengetahuan dengan agama. Sehubungan masih masih banyak beberapa ayat kauniah lain yang belum sempat terungkap saat ini, masih minimnya ilmuwan muslim, serta belum banyaknya lahir para ilmuwan dari bangsa kita sehingga perlulah kiranya penulis sebagai bagian dari komunitas pendidikan menyambungkan lisan yang telah disampaikan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia yang terus menantang anak bangsanya untuk selalu dan terus bereksplorasi serta berinovasi ilmiah yang dapat bermanfaat bagi ummat.

Akhirnya penulis sampaikan, karena kita sebagai salah satu pemeran utama komunitas pendidikan, tentu saja memikul tanggung jawab yang cukup berat sehubungan dengan daya kompetensi kita sebagai guru agar mampu mengkolaborasikan antara ilmu pengetahuan dengan Al-Qur’an. Hal ini perlu lebih mendapat penekanan yang lebih, karena yang namanya ilmu pengetahuan itu sudah merupakan bagian dari ayat – ayat kauniah Allah dalam Al-Qur’an, sekarang tinggal membentuk seorang pendidik menjadi guru yang Qur’ani.

* Penulis adalah guru sains pada MTsN Pasiripis Kab. Sukabumi.

(Total dibaca sebanyak 537 kali)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *